sharing pengantar antropologi

  1. Cara memindai personality seseorang atas tiga pilar, pengetahuan, perasaan dan naluri dalam tindakan manusia?

Jawab :

Dalam logika kemanusiaan sesuatu yang terjadi dikehidupan ini memeang ada dalam tiga pilar yakni pengetahuan,perasaan dan naluri.

Pengetahuan kita memounyai adanya suatu ilmu yang bisa kita jadikan acuan untuk menerima atau merangsang segala sesuatu yang dapat kita tangkap karena kita sebagai manusia bersifat peka terhadap segala sesuatu yang sifatnya dapat mengisi otak  mauopun akal dan mengisi jiwa seseorang yang sadar,yang dapat merangsang pertumbuhan otak dan menjadi sebuah pemikiran yang nyata.

Begitu juga dengan perasaan adalah alam nyata yeng sadar bagi mnausia yang meliputi rasa dlam diri dan jiwa seseorang,perasaan tidak dapat ditampakkan begitu saja namun hanya dapat dirasakan oleh orang yang merasakan jadi,kepuasan “rasa” itu terdapat aoleh dijjiwa seseorang tersebut.

Berbeda dengan naluri adalah rasa yang sudah berasal dari hati dan sudah ada didalam pemikiran dan naluri tidak dapat dibuat-buat  karena sebuah naluri sudah muncul dan ada dalam gen dan jiwa.

Sehingga adanya tiga pilar utama ini segala sesuatu kebutuhan yang ada dikehidupan ada dikehidupandapat berjalan seimbang dan dapat memenuhi segala kebutuhan itu.

2. Contoh konkret memindahkan tiga wujud kebudayaan kedalam suatu masyarakat yakni kebudayaan.

Kebudayaan adalah  sistem pengetahuan yakni penggabungan dari  sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak/fisik.

Dari ide yakni gagasan yang letaknya ada dimasing-masing pikirian orang, yang sifatnya tidak terlihat, tidak dapat diraba maupun digambarkan.Untuk itu, setelah manusia mengenal tulisan atau moder mengembangan konsep ide yang disalurkan melalui tulisan. Agar ide yang ada dikepalanya dapat diketahui oleh orang lain, karenanya sumber tulisan dalam sejarah amatlah penting untuk menjabarkan peristiwa-peristiwa masa lampau.

Setelah memaknai konsep ide, maka orang akan beraktifitas , sifatnya lebih konkret karena kita dapat melihat, karena itu aktifitas manusi ini dimasukkan dalam sosial kemasyarakatan,manusia sudah saling berinteraksi, bekerjasama maupun saling bertentangan. Antara aktivitas seseorang dengan yang lain tentunya berbeda-beda mengingat pola pikir yang ada dikepal masing-masing juga berbeda. Hingganya kebudayaan yang dihasilkannya pun cenderung berbeda pula.

Sedangkan perwujudan kebudayaan dari yang dua tadi (ide dan aktivitas) adalah benda-benda yang berwujud(artefak), benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia.

3. Memaknai konsep migrasi, akulturasi dan asimilasi dalam masyarakat Banjar?

Konsep ini diakibatkan oleh banyaknya masyarakat luar yang masuk disuatu daerah.Konsep Migrasi merupakan sutu proses perpindahan dari suatu tempat ketempat yang lain yang diikuti dengan perpindahan kebudayaan dari tempat asal ketempat yang baru. Proses perpindahan itu biasany memerlukan waktu yang lama yang biasanya tidak disadari oleh pelaku migrasi.

Proses Migrasi maka terjadi pula penyebaran unsur-unsur kebudayaan. Perpindahan kebudayaan yang terjadi bisa juga tidak dengan perpindahan penduduk secara langsung ataupun suatu bangsa ketempat lain, tetapi ada juga karena factor ikatan dinas ataupun pekrjaan.

Akulturasi yang merupkan suatu hal yang tidak dapat dijadikan sebagai suatu alasan yang punya sifat khusus ketika baru timbul kebudayaan baru di Eropah Barat mulai menyebar kesemua daerah lain dimuka bumi semenjak abad ke-15. Akulturasi merupakan suatu proses yang terjadi pada masyarakat yang merasakan baik secara langsung maupun tidak langsung penggabungan dua kebudayaan yang berbeda.

Asimilasi merupakan suatu proses sosial yang timbul apa bila:

a.Adanya golongan manusia yang memiliki latar belakang kebudayaan    berbeda –      beda.

b.langsung bergabung secara intensif untuk waktu yang lama sehingga menyababkan berubah sifatnya, dalam asimilasi terjadi dua penggolongan dimana terdiri dari golongan mayoritas dan golongan minoritas, dalam proses percampuran kebudayaan yang juga diikuti oleh unsur-unsurnya sehingga menjadi wujud kebudayaan yang baru dimana kebudayaan yang terlihat kuat ada pada pengaruh golongan Mayoritas dan golongan minoritas melakukan peyesuaian kebudayaan dan masuk dalam kebudayaan Mayoritas.

Jika dilihat pada masyarakat banjar maka pengaruh dari  konsep migrasi, akulturasi dan asimilasi sangat mempengaruhi besar dibanjar karena dengan adanya hal ini menjadikan masyarakat banjar “ welcome” terhadap bangsa luar dan menjadikan kebudyaaan yang abadi.

4. Kekayaan sumber daya alam tidak menjadikan masyarakat mendapatkan tingkat kemakmuran yang tidak memadai.

Jawab :

Sangat setuju dengan adanya pendapat ini karena bnayaknya sumber daya alam tidka menjadi tolak ukur kesejahteraan rakyat menjadi lebih baik karena SDA yang ada dibumi pertiwi kita ini hanya dijadikan kesenangan dan fasilitas oknum tertentu untuk menjadikan kantong mereka tebal dan tidak memperdulikan masyarakat yang ada disekitarnya. Dan hanya segelintir oknum saja yang memikirkan nasib ornag – orang yang ada disitu.

Dan hal ini menjadikan sabotase yang lama kelamaan menjadi tradisi masyarakat kita dana apabila masyarakat Indonesia menyadari dan sadara akan kewajiban dan hak nya maka tingkat kemakmuran yang ada dikita akan menjadi baik dan harapan Indonesia makmur akan menjadikan kenyataan dan yang pasti Indonesia menjadi lirikan asia dan contoh dunia.

5. Menurut kajian kebudayaan penyebab pokok para guru susah melakukan penemuan-penemuan serta penerapan penemuan-penemuan baru dalam pembaharuan pendidikan?

Konsep Inovasi atau penemuan adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru, sehingga terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. Suatu proses inovasi tentu berkaitan  penemuan baru dalam teknologi, yang biasanya merupakan suatu proses sosial yang melalui tahap discovery dan invension.

Pendorong penemuan baru. Faktor-faktor yang menjadi pendorong bagi seorang guru untuk memulai serta mengembangkan penemuan baru adalah:

a. kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan.

b.mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan.

c.sistem perangsang bagi kegiatan mencipta.

Dan adanya hal ini menyebabakan para guru bersifat pasrah dan tidak mau berusaha lebih cenderung bertahan dan tergantung terhadap pemerintahan.

Dengan demikian proses inovasi itu merupakan suatu proses evolusi juga. Bedanya ialah bahwa dalam proses inovasi  para guru berperan secara aktif, sedangkan dalam proses evolusi para guru itu pasif, bahkan seringkali negatif dan bersikap pesimis.

Terima kasih

Published in: on June 17, 2009 at 4:04 pm  Leave a Comment  

PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN KURIULUM

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat allah SWT, karena atas berkat rahmat dan hidayahnya jualahpenulis akkhirnya dapat menyelesaikan makalah ini. Salawat dan salam juga penulis ucapkan kepada junjungan kita Rasullullah SAW,beserta kerabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini sampai selesai.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, hal itu karena keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis meminta kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Penulis harap makalah ini dapat diterima untuk melengkpi tugas belajar dan pembelajaran.

Banjarmasin,24 November 2008

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Latar belakang pembutan makalah ini adalah selain untuk memenuhi tugas juga ingin mengetahui perkembangan kurikulum dari tahun-ketahun apakah sudah memiliki perkembangan atau tidak serta apakah guru memiliki peranan yang sangat sentral dalam pengenmbangan kurikulum.
1.2 Bahasan masalah.
Kami disini hanya membahas tentang pembelajaran dan pengembangan kurikulum yaitu mencakup :
a) Kurikulum dan landasan pengembangan kurikulum.
b) Komponen dan prinsip – prinsip pengembangan kurikulum.
c) Model – model pengembangan kurikulum.
d) Guru dan pengembangan kurikulum.
1.3 metode yang digunakan.
Metode yang kami gunakan disini adalah system metode perpustakaan yakni membaca dan merangkum.

BAB II
ISI
A. Kurikulum dan landasan pengembangan kurikulum.
1) Pengertian kurikulum.
UUD republic Indonesia nomor 2 tahun 1989 pasal 1 menyebutan bahwa “ kuriulum adalah seperankat rencan dan pengaturan mengenai isi dan bahasa serta cara yang digunakansebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar”, sedangkan pasal 37 menyebutkan kurikulum adalah susunan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan menperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaianya dengan lingkungan.
2) Landasan pengembangan kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentuka proses pelaksanaan dan hasil pendidikan.penyusunan kurikulum membutuhkan landasan – landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil – hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Ada beberapa landasan dalam perkembangan kurikulum yaitu :
a. Landasan filsofis.
Pandangan dan wawasan yang ada dalam masyarakat merupakan adalah pandangan dan wawasan dalam pendidikan bahkan dapat dikatakan bahwa filsafat yang hidup dalam masyarakat merupakan landasan filosofi penyelenggaraan pendidikan.oleh karena itu landasan dilosofis pengembangan kurikulum adlah hakekat realitas , ilmu pengetahuan , system nilai , nilai kebaikan , dan hakekat pikiran yang ada dalam masyarakat untuk landasan filsofis di Indonesia adalah pancasila.
b. Landasan psikologis.
Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko – fisik seseorang sebagai individu , yang dinyatakan dalam berbaga bentuk prilaku dalam interksi dengan lingkungannya. Kondisi setiap individu berbeda maka itu ada dua bidang psikologis yang mendasari kurikulum yaitu psikologi kurikulum dan psikologi belajar.

c. Landasan sosial , budaya , agama.
Masyarakat tidak mudah menerima sesuatu untuk melaksanakan penerimaan semua itu maka pendidikan dimanfaatkan dan dirancang melalui kuriulum jadi jelaslah kitanya bagi kitamengapa salah satu landasan pengembangan kurikulum adalah nilai – nilai sosial agama .
d. Landasan ilmu pengetauan tekhnologi dan seni.
Ilmu pengetahuan dan teknolgi adalah nilai – nilai yang bersumber pada pikiran dan logika , sedangkan seni bersumber pada perasaan atau estetika pendidikan merupakan upaya yang dlakukan untuk menghadapi perubahan yang semakin pesat , termasuk didalamnya ilmu pengetahuan tekhnologi , dan seni maka pengembangan kurikulum teruslah berdasarkan ilmu pengetahuan tekhnologi dan seni.
e. Landasan kebutuhan masyarakat.
f. Masyarakat kota dan masyarakat pedesaan sangat berbeda oleh karena itu pengembangan kurikulum yang hanya berdasarkan pada ketrampilan saja tidak akan memenhuhi kebutuhan masyarak modern yang bersifat tekhnologis. Pengembangan kurikulum juga harus ditekankan pada pengembangan indiidu yang mencakup lingkungan sosial setempat, jadi landasan perkembangan kurikulum adalah kebutuhan masyarakat yang dilayani kurikulum yang berkembang.
g. Landasan perkembangan masyarakat.
Masyarakat selalu mangalami perkembangan maka diperlukanlah pendidikan yang sesuai. Untuk itu perkembangan masyarakat diperlukan rancangan kurikulum yang landasan pengembangannya berupa pengembangan masyarakat itu sendiri.
B. Komponen dan prinsip – prinsip pengembangan kurikulum
1) Komponen kurikulum
Sebelum melaksanakan kegiatan penyeimbangan kurikulum terlebih dahulu harus mengetahui komponen apa saja yang terdapat di kurikulum. Kurikulumdapat diumpamakan sebagai manusia ataupun binatang yangmrmiliki susunan tertentu. Susunan kurikulum yang utama adalah tujuan,isi atau materi, organisasi, dan media.
Sautu kurikulum harus memiliki telepansi yaitu pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tujuan, kebutuhan, kondisi dan perkembnagan masyarakat kedua kesesuaian dengan isi sesuai dengan tujuan, proses sesuai dengan isi dan tujuan, demikian pula epolusi sesuai dengan proses, isi dantujuan kurikulum.
a. Tujuan memiliki peranan yang sangat penting, akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen-komponen kurikulum yang lain. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal, pemikiran dan teraharah pada pencapaian nilai-nilai filosofis terutama filsafah Negara. Ada bebrapa tujuan yaitu:
1). Tujuan pendidikan nasional (tujuan umum)
2). Tujuan institusional
3). Tujuan kulikuler
4). Tujuan instruksional (tujuan bersifat khusus)
b. Materi / pengalaman belajar
Isi atau materi kurikulum adalah semua pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dasn sikap yang terorganisasi dalam mata pelajaran. Sedangkan penglaman belajar dapat diartikan sebagai belajar tentang , belajar bagaimana disiplin berpikir dari suatu disiplin ilmu.
c. Organisasi
Materi dan pengalaman berwujud dalam kurikulum di organisasikan untuk mengefektifkan pencapaian tujuan, namun demikian perlu kita sadari bahwa pengorganisasian kurikulum merupakan kegiatan yang sulit dan kompleks.
d. Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara menyeluruh. Evaluasi ini dibagi atas
(1) Evaluasi hasil belajar- mengajar : untuk menilai keberhasilan penggunaan siswa atau tujuan-tujuan khusus yang telah ditentukan.
(2) Evaluasi pelaksanaan mengajar : dalam hal ini yang dievaluasi adalah tujuan mengajarkan bahan pengajaran, strategi dan media pengajaran.

2. Prinsip – prinsip perkembangan kurikulum.
• ada bebreapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum yaitu :
a) Prinsip relevansi :
• relevansi keluar : maksudnnya tujtuan, isi, dan proses belajar yang mencakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
• Relevansi kedalam : terjadinya relevansi di antara komponen – komponen kurikulum ,tujuan , isi , proses penyampaian dan evaluasi.
b) Prinsip kontinuitas (kesinambungan ) : kesinambungan ini terjadi secara vertical dan secara horizontal.
c) Prinsip fleksibilitas : prinsip ini menuntut adanya penyesuaian – penyesuain dalam mengembangkan kurikulum tanpa mengorbankan tujuan yang hendak dicapai.
d) Prinsip praktis / efisiensi : mudah dilaksanakan , menggunakan alat – alat sedehana serta biaya yang murah.
e) Prinsip efiktivitas : pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh keberhasilan pendidikan.

• Adapun prinsip khususnya yaitu :
a) Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan bersumber pada :
 Ketentuan dan kebijakan pemerintah.
 Survey mengenai persepsi orang tua melalui wawancara / angket.
 Survey tentang pandangan para ahli dalam bidang – bidang tertentu.
 Survey tentang man power.
 pengalaman Negara – Negara lain.
 Penelitian.
b) Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidika.
Dalam hal ini para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu :
 Perlu penjabaran tujuan pendidikan.
 Isi pelajaran harus meliputi segi pengetahuan,sikap,dan ketranpilan.
 Urutan isi harus logis dan sistematis.
c) Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar.
Hal – hal yang harus diperhatikan :
 Apakah metode yang dipergunakan cocok dengan bahan pelajaran ?
 Apakah tekhnik memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapt melayani individual siswa?
 Apakah metode tersebt memberikan urutan kegiatan yang bertingkat – tingkat ?
 Apakah metode ini dapat mencapai kegiatan kognitif , afektif, dan psikomotor ?
 Apakah metode ini lebih mengaktifkan siswa /guru ataukah malah keduanya ?
 Apakah mendorong kemampuan siswa dalam hal yang baru ?
 Apakah metode ini menimbulan kegiatan belajar dirumah ?

d) Prinsip berkenaan dengan pmilihan media dan alat pengajaran.
 Alat pengajaran apa yang diperlukan , apakah sudah teredia ?
 Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran , apakah dalam bentuk modul , paket belajar atau yang lain ?
 Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
e) Prinsip berkaitan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
 Alat penilaian hendaknya diperhatikan :
-kognitif
– afektif
- psikmotor
 Merencanakan penilaian hendaknya memperhatiakan :
- kelas
- usia
- tingkat kemampuan kelompok.
 Dalam pengolahan suatu hasil penelitian hendaknya memperhatikan :
- Norma yang digunakan dalam tes.
- Apakah menggunakan formula quessing.
- Bagaimana mengubah skor ke-skor masuk.
- Untuk apakah hasil tes digunakan.

C. Model –model pengembangan kurikulum.
1. Model administrative ( line staff )
Model perkembangan kurikulum ini merupakan pola pengembangan paling awal. model perkembangan ini berdasarkan pada para kerja atasan bawahan yang dipandang efektif dalam pelaksanaan perubahan.
Model ini memiliki langkah – langkah :
(1) Administrator pendidikan.
(2) Komisi pengarah bertugas merencnakan rumusan umum , mengembangkan prinsip – prinsip pedoman , menyiapkan suatu pernyataan filosofi.
(3) Membentuk komisi kerja.
(4) Memeriksa hasil kerja dan komisi kerja.
Ada dua kegiatan dalam mdel ini :
- menyiapkan seperangkat dokumen kurikulum baru.
- menyiapakan instlasi dokumen.
Model kurikulum ini dengan kata lain membutuhkan penyiapn para pelaksana kurikulum melalui berbagai bentuk pelatihan agar dapat melaksanakan kurikulum dengan baik.

2. Model grass-roots.
Model perkembangan kurikulum ini semua inisiatif dan upayanya dari bawah.
Model ini bisa juga disebut model dari bawah ke atas.
Perlu di ingat ada 4 prinsip dalam model grass- roots yang dikemukakan oleh smith , steenly , dan shores yaitu :
(1) Kurikulum akan bertambah baik kalau kompetisi professional guru bertambah baik.
(2) Kompetisi guru akan lebih baik bila guru terjun secara langsung dakam masalah – masalah perbaikan kurikulum.
(3) Kebersamaan guru dalam menanggung tujuan yang dicapai.
(4) Pertemuan seorang guru denhan kelompk – kelmpok lain membantu dalam prinsip – prinsip dasar , tujuan dan pencapaian.
Dalam model ini guru dituntut untuk memiliki sejumlah kemampuan , maka itu guru haruslah diberikan ksempatan untuk terlibat secara langsung dan memecahkan masalah – masalah kurikulum.

3. Model Beauchamp
Model ini mengemukakan 5 hal dalam pengembangan suatu kurikulum yaitu :
1. Menetapkan ruang lingkup atau wilayah.
2. Menetapkan personalia.
3. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum.
4. implementasi kurikulum.
5. Evaluasi kurikulum.
4. Model arah terbalik taba (taba’s inverted model)
Model ini juga meneggunakan 5 hal didalamnnya yaitu :
1. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
2. Menguji unit-unit eksperimen.
3. Mengadakan revisi dan konsolidasi.
4. Pengembangan keseluruh kerangka kurikulum.
5. Emplementasi dan disementasi.
5. Model rogers
Ada 4 langkah pengembangan kurikulum model rogers yaitu :
1. Pemilihan satu system pendidikan sasaran
2. Pengslaman yang intenif bagi guru.
3. Pengembangan pengalaman kelmpok yang intensif untuk suatu kelas atau unit pelajaran.
4. Melibatkan oran tua dalam pengembangan kelompok.
Model ini tidak ada suatu perencanaan tertulis melainkan rangkaian kegiatan kelompok tidak mementingkan frmalitas yang palin penting adalah aktifitas dan interaksi.
D. Guru dan perkembangan kurikulum.
(1) Peran guru dalam pengembangan kurikulum.
Keterlibatan seorang guru dalam mdel – model pengembangan kurikulum bukan kebetuln belaka. Guru adalah orang tau situasi dan kondisi diterapkannya kurikulum yang berlaku selain itu guru juga bertanggung jawab atas tercciptannya hasil belajar yang diinginkan.dalam hal ini sudah sewajarnyalah seorang guru beperan dalam pengembangan kurikulum.wujud peran guru dapat berupa bentuk- bentuk :
 Merumuskan tujuan khususnya pengajaran berdasarkan kurikulum.
 Merencanakan pembelajaran yang dapat efektif.
 Menerapkan rencana / program pembelajaran yang sudah dirumuskan.
 Mengevaluasi hasil dan proses belajar.

E. Mengeveluasi interaksi antara komponen – komponen kurikulum.
Lima kegiatan tersebut merupakan peranguru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi sedangkan yang bersifat desentralisasi perranan guru lebih besar yaitu mencaup pengembangan keseluruhan komponen – kmponen kurikulum dalam perencanaan , mengimplementasikan kurikulum yang dikembangkan , mengevaluasi kurikulum , dan mengevaluasi kurikulum yang kurang memadai.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berpangkal pada suatu kurikulum,dan dalam proses pembelajaran guru juga berorientasi pada tujuan kurikulm.Pada satu sisi guru adalah pengembangkan kurikulum.Pada sisi lain guru adalah pengajar siswa yang secara kreatif membelajarkan siswa sesuai dengan kurikulum sekolah.Hal ini menunjukkan bahwa guru-guru dituntut untuk memahami kurikulum.

B.SUMBER RUJUKAN
-PENGEMBANGAN KURIKULUM TEORI DAN PRAKTEK PENULIS.PROF.DR.HANASYA ODIH SUKMA DINATA FEBRUARI 2004
-PEMBEKAJARAN DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PENULIS :D R.WINA SANJAYA MARET 2006
-BELAJAR DAN PEMBELAJARAN OLEH DR.DIMYATI,DRS.MOJIONO FEBRUARI 2006

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………..
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………..
1.2 Bahasan Masalah……………………………………………………………………
1.3 Metode yang Digunakan………………………………………..………………….
BAB 11
ISI
A. Kurikulum dan landasan pengembangan kurikulum……………………………….
B. Komponen dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum…………………………
C. Model-model pengembangan kurikulum…………………………………………….
D. Guru dan pengembangan kurikulum…………………………………………………
BAB111
PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………………………………..
B. Sumber Rujukan……………………………………………………………………..

Published in: on April 17, 2009 at 2:34 am  Leave a Comment  

sistem pengobatan masyarakat banjar

(Kalimantan Selatan)
1. Pengantar
Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi di Pulau Kalimantan,tepatnya Indonesia. Provinsi ini memiliki 11 kabupaten dan 2 kota Ada beberapa sukubangsa (asal) yang mendiami provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu diantaranya adalah sukubangsa Banjar. Mereka tinggal di beberapa kabupaten yang tergabung di dalamnya, yaitu: Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Barito Kuala, Kota Baru, Tanah Laut, dan Kota Banjarmasin.
Sedangkan menurut Alfani Daud (1997), sukubangsa Banjar di duga adalah penduduk asal Sumatera yang datang lebih dari seribu tahun yang lalu dan telah melakukan kawin campur dengan penduduk asli (Dayak). Dari percampuran ini maka terbentuklah tiga buah subsukubangsa, yaitu: Banjar Pahuluan yang mendiami daerah sekitar lembah-lembah sungai (cabang Sungai Negara) yang berhulu di pegunungan Meratus, Banjar Batang Banyu yang mendiami lembah Sungai Negara dan Banjar Kuala yang mendiami daerah sekitar Banjarmain dan Martapura.
Sebagaimana sukubangsa lainnya, orang Banjar juga mengetahui persis tentang alam flora yang ada di sekitarnya dan pemanfaatannya dalam kehidupan mereka. Mereka tidak hanya tahu berbagai jenis tumbuhan (pohon) yang dapat dijadikan bahan bangunan, tetapi juga tahu persis berbagai jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai penyembuh (obat) penyakit tertentu, seperti: terkena benda tajam, tumpul dan atau lancip, tergigit serangga, gatal-gatal, dan berbagai penyakit luar lainnya.
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut. Kata “sistem” banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka. 2. Jenis-jenis Tumbuhan dan Khasiatnya
Jenis-jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit seperti: tahiris, lecet-lecet, memar, disengat kalajengking, tertusuk duri, disengat ulat bulu, bisul, barah, digigit buntal, luka bakar, dan bercak hitam adalah: daun pisang, karet, kelapa, lada, pepaya, kunyit, mentimun, pala, akar patintin, daun sirih, keladi lumbu, bulu kucing, daun turi, bawang merah, kumpai maling, asam jawa, dan lain sebagainya. Adapun cara pengobatannya ada yang dikunyah, ditumbuk, direbus, dan dipanggang kemudian dioleskan pada anggota tubuh yang terluka (sakit). Berikut ini adalah berbagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat suatu penyakit dan caranya mengobatinya.
a. Daun Pisang
Pucuk daun pisang yang belum mekar (masih kuncup) dapat digunakan untuk mengobati tahiris (luka teriris). Caranya, pucuk daun pisang yang masih kuncup dipotong secukupnya (beberapa cm). Kemudian, dikunyah sampai lumat. Setelah itu, ditempelkan pada bagian yang luka dan dibalut dengan kain bersih. Jika keesokan harinya ternyata luka belum mengering, maka cara yang sama diulangi lagi. Demikian seterusnya sampai luka karena teriris menjadi kering (sembuh).
b. Pohon Para (Karet)
Pohon para jika dibakar biasanya akan mengeluarkan buih. Buih ini sangat berguna untuk mengobati lingsak (lecet-lecet). Caranya, buih tersebut dioleskan pada bagian yang lecet. Pengobatan dilakukan sehari sekali pada pagi hari sampai luka lecet sembuh.
c. Daging Buah Kelapa
Daging buah kelapa dapat digunakan sebagai obat mamar (memar). Caranya, daging buah kelapa itu diparut (dilembutkan) kemudian diberi sedikit cuka. Setelah itu, dioleskan pada bagian yang memar.
d. Lada atau Merica
Lada atau merica dapat digunakan untuk mengobati luka akibat diigut kala (disengat kalajengjing). Caranya lada atau merica itu ditumbuk sampai halus. Kemudian, ditaruh di dalam piring atau mangkok, lalu diberi sedikit minyak kelapa. Setelah itu, digosokkan pada bagian yang tersengat kalajengking. Sisanya ditempelkan ke bagian yang luka itu sampai kering.
e. Kustela (Papaya)
Kustela dapat digunakan untuk mengobati orang yang tacucuk duri (tertusuk duri). Caranya kastela yang masih muda disayat. Biasanya akan mengeluarkan getah. Getah inilah yang kemudian dioleskan pada bagian yang tertusuk duri.
f. Kunyit
Kunyit dapat digunakan untuk mengobati orang yang disengat hulat bulu (ulat bulu). Caranya, kunyit ditumbuk bersama kapur sirih sampai halus. Kemudian, dibungkus dengan daun pisang dan dipanaskan, sehingga menyerupai pepes ikan. Setelah agak hangat, bungkusnya dibuka, kemudian diambil isinya, dan ditempelkan pada bagian yang tersengat ulat bulu.
g. Pala dan Bilungka (Mentimun)
Pala dan mentimun dapat digunakan untuk mengobati orang yang lehernya terkena bakatak (bisul). Caranya, buah pala dan mentimun dilembutkan (diparut), kemudian di dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang (dipepes). Setelah agak hangat, diambil isinya kemudian ditempelkan pada leher yang terkena bisul.
h. Akar Patintin dan Daun Sirih
Akar Patintin dan daun sirih adalah bahan untuk membuat ramuan obat penyakit yang disebut sebagai barah, yaitu suatu penyakit yang mirip dengan bisul, namun benjolannya lebih besar. Caranya, akar patintin, daun sirih, dan kapur sirih ditumbuk sampai halus. Kemudian, dimasukkan ke dalam mangkuk dan dicampur dengan madu secukupnya. Setelah tercampur rata, maka dioleskan pada barah (sehari dua atau tiga kali).
i. Keladi Lumbu dan Bulu Kucing
Keladi lumbu dan bulu kucing dapat digunakan sebagai bahan untuk mengobati orang yang terkena igutan buntal (digigit sejenis binatang pemakan daging yang hidup di sungai-sungai di daerah Banjar (Kalimantan Selatan). Caranya, jika menggunakan keladi lumbu (sejenis tumbuhan talas yang tidak berumai dan tidak dapat dimakan), adalah dengan memotongnya. Biasanya akan keluar getahnya. Getah itulah yang kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang terkena gigitan buntal. Sedangkan, jika menggunakan bulu kucing, maka bulu kucing tersebut dicampur dengan kopi rabuk. Kemudian, campuran tersebut ditaburkan pada bagian tubuh yang terkena gigitan buntal.
j. Daun Lowa dan Bandayang Nyiru
Daun lowa dan bandayang nyiru adalah jenis tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengobati orang yang terkena luyuh (luka bakar). Caranya (jika menggunakan daun lowa), pucuk daun tersebut dikunyah sampai lembut (lumat). Setelah itu, ditempelkan pada bagian tubuh yang terkena luka bakar. Sedangkan, sisanya dapat disimpan yang ditempat yang kering untuk dioleskan kembali pada hari berikutnya (keesokan harinya). Selanjutnya, jika menggunakan bandayang nyiru (dahan kelapa kering), adalah dengan memotong-motongnya, kemudian dibakar dan abunya dikumpulkan. Abu itulah yang kemudian ditaburkan ke bagian tubuh yang terkena luka bakar.
k. Daun Turi
Daun turi dapat dijadikan sebagai bahan (obat) untuk menghilangkan bercak hitam yang diakibatkan luka bakar. Caranya, daun tersebut ditumbuk sampai lumat kemudian dioleskan pada bagian tubuh (kulit) yang mempunyai bercak hitam. Sehari dapat dilakukan dua atau tiga kali. Demikian seterusnya sampai bercak hitam menjadi hilang.
l. Kumpai Maling dan Bawang Merah
Kumpai maling (rumput liar yang tumbuh di sela-sela tanaman peliharaan) dan bawang merah adalah dua jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai bahan dalam pengobatan orang yang terkena benda tajam. Jika menggunakan kumpai maling, maka caranya adalah dengan menumbuknya (seperlunya) sampai lumat. Setelah itu, ditempelkan pada bagian yang terkena benda tajam (luka). Sedangkan, jika menggunakan bawang merah, maka bawang merah tersebut (ditambah dengan gula pasir) juga ditumbuk sampai halus. Kemudian, ditempelkan pada bagian yang luka.
m. Asam Kamal (Asam Jawa)
Asam kamal dapat dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan orang yang disengat halilipan (kelabang) Caranya, asam kamal (bijinya) itu ditumbuk sampai lembut, kemudian digosokkan pada bagian yang tersengat.
n. Bunga Melati dan Kustela
Bunga melati dan kustela. adalah dua jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan (obat) untuk menyembuhkan orang yang tersengat serangga. Serangga yang dimaksud di sini adalah: kayakih (sejenis semut besar), halimbada (sejenis ulat berbisa), wanyi, kalalaput, naning dan tambunan (sejenis lebah). Jika menggunakan bunga melati, caranya adalah dengan meremasnya hingga lumat (basah), kemudian diusapkan pada bagian yang terkena sengatan. Jika menggunakan kustela, caranya kustela tersebut disayat sampai mengeluarkan getah. Getah itulah yang kemudian dioleskan pada bagian yang tersengat.
o. Cabai, Pinang dan Sirih, Keminting (Kemiri) dan Janur, Jalantang (Rumput Gatal) dan Kaladi
Berbagai jenis tumbuhan ini dapat digunakan menyembuhkan penyakit gatal-gatal,Jika menggunakan cabai, pinang, dan sirih, maka caranya ketiga jenis tumbuhan ini ditumbuk sampai halus lalu dibungkus dengan kain. Bungkusan yang berisi ramuan obat untuk menyembuhkan gatal-gatal ini oleh masyarakat Banjar disebut jajarangan. Setelah itu, direbus dengan air secukupnya hingga mendidih. Selanjutnya, jajaran yang masih panas itu dikompreskan pada bagian tubuh yang gatal. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang hingga gatalnya hilang. Jika menggunakan menggunakan biji keminting dan janur, maka caranya adalah dengan memanggangnya, kemudian menumbuknya sampai halus. Setelah itu, dioleskan pada bagian yang gatal. Jika menggunakan kaladi, maka caranya adalah dengan memotong batangnya kemudian memanggangnya. Ketika sudah panas segera diusapkan pada bagian yang gatal secara berulang-ulang hingga hilang rasa gatalnya. Jika menggunakan jalatang, maka caranya dengan menggosok-gosokkan daun tersebut pada bagian yang gatal. Sedangkan, jika menggunakan akar tuba, maka caranya adalah dengan menumbuknya hingga keluar getahnya. Getah itulah yang kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang gatal.
p. Patintin, Rumbia, Lumut Batang, Lengkuas, Sirih, Kamboja dan Bawang Putih
Berbagai jenis tumbuhan tersebut di atas, oleh orang Banjar, dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bisul. Jika menggunakan patintin, maka caranya adalah dengan mengambil akarnya kemudian dibersihkan, lalu direndam dengan air selama dua atau tiga jam. Setelah itu, disaring dengan kain kemudian diminum. Jika menggunakan rumbia, maka pelepahnya dipotong sehingga mengeluarkan getah. Getah tersebut kemudian ditampung dalam sebuah mangkuk atau piring kecil dan dicampur kapur sirih secukupnya. Setelah tercampur rata, maka dioleskan pada bisul. Jika menggunakan lumut batang, maka caranya adalah dengan menumbuk lumut batang tersebut hingga lumat kemudian melumurkannya pada sekeliling bisul (mata bisul dibiarkan terbuka). Setelah pecah, bisul itu dipupuri dengan pupur dingin yang dicampur dengan garam agar bisul tersebut cepat kering. Jika menggunakan lengkuas, maka lengkuas ditumbuk bersama garam hingga halus, kemudian dibungkus dengan daun nangka dan dibakar hingga menjadi abu. Abu sisa ramuan lasu dan garam tersebut dioleskan pada mata bisul. Jika menggunakan sirih, maka ujung tangkai sirih ditumbuk hingga pecah (seperti kuas), lalu dicelupkan pada minyak kelapa dan dibakar. Jika ramuan itu sudah dingin, barulah dioleskan pada bisul. Jika menggunakan daun kamboja dan minyak kelapa, maka caranya adalah mencelupkan daun itu pada minyak kelapa yang telah ditaruh di dalam mangkuk. Ketika daun sudah lemas, maka ditempelkan pada bisul. Selanjutnya, jika menggunakan bawang putih, maka caranya adalah dengan mengupas kulitnya, kemudian menggosokkannya pada bisul yang baru tumbuh. (AG/bdy/59/9-07)
Sumber :
Aziddin, Yustan, dkk. 1990. Pengobatan Tradisional Daerah Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A–K. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Published in: on April 14, 2009 at 10:15 am  Leave a Comment  

Sejarah Karate Indonesia

Di tahun 1964, kembalilah ke tanah air salah seorang mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan kuliahnya bernama Drs. Baud A.D. Adikusumo(Alm). Beliau adalah seorang karateka yang mendapatkan sabuk hitam dari M. Nakayama, JKA Shotokan. Ia mulai mengajarkan karate. Melihat banyaknya peminat yang ingin belajar karate, dia mendirikan PORKI (Persatuan Olahraga Karate-Do Indonesia) yang merupakan cikal bakal FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia). Sehingga beliau tercatat sebagai pelopor seni beladiri Karate di Indonesia.Dan beliau juga pendiri Indonesia Karate-DO (INKADO)

Setelah beliau, tercatat nama putra-putra bangsa Indonesia yang ikut berjasa mengembangkan berbagai aliran Karate di Indonesia, antara lain Bp. Sabeth Mukhsin dari aliran Shotokan, pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) dan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI), dan juga dari aliran Shotokan adalah Anton Lesiangi (pendiri Lembaga Karate-Do Indonesia/LEMKARI, yang pada dekade 2005 karena urusan internal banyak anggota Lemkari yang keluar dan dipecat yang kemudian mendirikan INKANAS (Institut Karate-do Nasional) yang merupakan peleburan dari perguruan MKC (Medan Karate club). Kabarnya, perguruan ini sekarang menjadi besar dan maju, tidak kalah dengan LEMKARI.

Aliran Shotokan adalah yang paling populer di Indonesia. Selain Shotokan, Indonesia juga memiliki perguruan-perguruan dari aliran lain yaitu Wado dibawah asuhan Wado-ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) yang didirikan oleh Bp. C.A. Taman dan Kushin-ryu Matsuzaki Karate-Do Indonesia (KKI) yang didirikan oleh Matsuzaki Horyu. Selain itu juga dikenal Bp. Setyo Haryono dan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Goju-ryu, Bp. Nardi T. Nirwanto dengan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Kyokushin. Aliran Shito-ryu juga tumbuh di Indonesia dibawah perguruan GABDIKA Shitoryu (dengan tokohnya Dr. Markus Basuki) dan SHINDOKA (dengan tokohnya Bp. Bert Lengkong). Selain aliran-aliran yang bersumber dari Jepang diatas, ada juga beberapa aliran Karate di Indonesia yang dikembangkan oleh putra-putra bangsa Indonesia sendiri, sehingga menjadi independen dan tidak terikat dengan aturan dari Hombu Dojo (Dojo Pusat) di negeri Jepang.

Pada tahun 1972, 25 perguruan Karate di Indonesia, baik yang berasal dari Jepang maupun yang dikembangkan di Indonesia sendiri (independen), setuju untuk bergabung dengan FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia), yang sekarang menjadi perwakilan WKF (World Karate Federation) untuk Indonesia. Dibawah bimbingan FORKI, para Karateka Indonesia dapat berlaga di forum Internasional terutama yang disponsori oleh WKF.

Published in: on March 5, 2009 at 12:22 pm  Comments (5)  

Sejarah karate

Karate adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut “Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan’. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” 空手.

Menurut Japan Karatedo Federation (JKF) [1] dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:

  1. Shotokan
  2. Goju-Ryu
  3. Shito-Ryu
  4. Wado-Ryu

Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation [2] dan World Karatedo Federation.

Namun gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya diatas itu saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin Karate , Shorin-ryu Karate dan Uechi-ryu Karate tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam ” 4 besar WKF”.

Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah Japan Karatedo Federation (JKF). Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (World Karate Federation), (dulu dikenal dengan nama WUKO – World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Sport Karate yang bersifat Non-Contact, berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang Full Contact.

Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:

  1. Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
  2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
  3. Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.

Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.

Published in: on February 20, 2009 at 2:37 am  Comments (5)  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on February 19, 2009 at 2:01 pm  Comments (3)  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.